Final Piala Eropa 2012 - Ulasan Kekuatan Final Piala Eropa 2012 - Ulasan Kekuatan | Sharing Moments Final Piala Eropa 2012 - Ulasan Kekuatan | Sharing Moments Sharing Moments, Berbagi Untuk Kebaikan , memberikan inspirasi bagi sesama agar hidup ini menjadi lebih bahagia

Jumat, 29 Juni 2012

Final Piala Eropa 2012 - Ulasan Kekuatan


Setelah sejarah pertemuan finalis EURO 2012 pada tulisan sebelumnya sekarang saya mau mencoba membedah kekuatan dari ke dua tim tersebut, itung-itung belajar jadi komentator…hehehe….

Spanyol pada Piala Eropa kali ini agak berbeda, ketajaman strikernya berkurang, pada Piala Eropa 2008 yang lalu sampai babak semifinal para jugador Spayol sudah mencetak 11 gol sementara Piala Eropa 2012 ini sejauh ini baru mencetak 8 gol, masih kalah dari Jerman yang sanggup mencetak 10 gol walau sudah gugur dikalahkan Italia di semifinal. Penurunan ini bisa jadi karena tidak striker murni yang memiliki ketajaman seperti yang diperlihatkan David Villa pada Piala Eropa sebelumnya, sayangnya Villa terpaksa absen karena cedera dan tidak ikut andil dalam Piala Eropa 2012 ini.

Dari 4 Striker murni yang dibawa sang manajer Vicente del Bosque yaitu Pedro Rodríguez, Fernando Torres, Álvaro Negredo dan Fernando Llorente, 3 pemain sudah diturunkan. Torres turun sebagai starter ketika menghadapi Republik Irlandia dan Kroasia dan mampu mencetak 2 gol yang dibukukan saat melawan Republik Irlandia, Torres juga turun pada laga pertama melawan Italia dan pada saat melawan Perancis dimana keduanya menggantikan Fabregas. Negredo turun sebagai starter pada pertandingan perempatfinal melawan Portugal dan turun sebagai pemain pengganti pada saat melawan Kroasia, sementara Pedro menggantikan David Silva pada laga melawan Perancis dan pada laga melawan Portugal turun menggantikan Xavi. Sementara Llorente sejauh ini belum pernah diturunkan baik sebagai starter maupun pemain pengganti.

Terlihat Del Bosque cukup kebingungan menetapkan pemain-pemain yang menjadi target man, bahkan sampai pertandingan semifinal kemarin mereka tidak pernah bermain penuh dengan striker murni. Sejauh ini mereka memang memiliki penguasaan bola tertinggi diantara tim-tim lainnya, namun tanpa striker murni itu semua kurang memiliki arti bahkan bisa jadi membosankan sama ketika mereka melawan Kroasia dan Portugal. Mereka bermain mengesankan ketika melawan Republik Irlandia, itupun sebelum Torres akhirnya ditarik keluar menit ke 74 dan pada saat menghadapi Perancis itupun pada babak kedua yang uniknya ketika Torres masuk pada menit ke 64.

Torres mungkin tidak sedang dalam top form-nya, tapi rasanya saat ini Spanyol membutuhkan striker murni dalam line-up nya bukan hanya untuk mengkonversi permain tiki-taka menjadi gol tapi juga pengalih perhatian barisan belakang Italia agar kreatifitas pemain tengah Spanyol yang kualitasnya diatas rata-rata dapat lebih berkembang dan mungkin saja menjadi goal getter karena barisan belakang Italia terfokus menjaga Torres.

Untuk pemain tengah dan belakang Spanyol tidak perlu diragukan lagi, sejauh ini setelah gol Di Natale gawang Iker Cassilas tercatat tidak pernah kebobolan lagi, ini menandakan sejauh ini pemain belakang Spanyol mampu meredam serangan lawan yang dihadapi, hanya eksplosifitas, agresifitas dan kecepatan sayap pemain-pemain Portugal yang mampu meredam penguasaan bola dan memberikan tekanan ke jantung pertahanan Spanyol. Christiano Ronaldo, Nani dan Hugo Almeida paling tidak beberapa kali mengancam gawang Cassilas. Namun tangguhnya barisan belakang Spanyol yang digalang Cassilas mampu menghindari mereka dari kebobolan.

Sementara pemain tengah Spanyol menurut saya yang paling lengkap dalam Piala Eropa ini, penguasaan bola yang selalu diatas 50% menjadi salah satu bukti. Kemampuan mereka memainkan bola dari kaki ke kaki, akurasi umpan serta pergerakan pemain mereka terlihat mulus. Passing-passing yang dilakukan Xavi Hernandez, Xabi Alonso dan Anders Iniesta mampu membongkar pertahanan setiap lawan yang dihadapi, hanya saja tumpulnya penyerang Spanyol menjadi catatan sendiri yang membuat hal tersebut tidak berbuah gol-gol. Bahkan pemain bertahan semisal Ramos dan Arbeloa juga masuk daftar pemain yang melepaskan umpan terbanyak namun tetap saja hal tersebut hambar jika minim gol yang tercipta.

Sekarang kita menyeberang ke Italia, kekuatan Italia dalam Piala Eropa ini semakin hari semakin kuat saja. Ditengah problem yang tengah dihadapi asosiasi persepakbolaan yang tengah dihadapi mereka tetap mampu menampilkan permainan terbaik dan tidak mempengaruhi permainan mereka, ciri profesionalitas yang dijunjung tinggi pemain.
Sempat kesulitan dalam 2 pertandingan awal dimana mereka hanya mendapatkan hasil imbang 1-1 melawan Spanyol dan Kroasia, akhirnya mereka memastikan lolos setelah mengalahkan Republik Irlandia 2-0 lewat gol Cassano dan Balotelli, pemain terakhir juga menjadi penentu kemenangan Italia atas Jerman dengan 2 golnya.

Italia konsisten memainkan 2 striker utama di depan, Balotelli dan Cassano menjadi pilihan utama sebagai starter hanya sekali Italia tidak menurunkan duet tersebut, yaitu pada pertandingan melawan Republik Irlandia dimana duet yang diturunkan adalah Cassano dan Di Natale. Dari 6 gol Italia 5 diantaranya dicetak oleh penyerang-penyerang mereka, Di Natale menyumbangkan gol saat turun menggantikan Balotelli melawan Spanyol, hal ini dibalas Balotelli saat menggantikan Di Natale pada laga melawan Republik Irlandia plus 2 gol melawan Jerman, dan satu gol lagi dicetak Cassano. Terlihat kemampuan penyerang-penyerang Italia dalam memproduksi gol menjadi ancaman tersendiri bagi pertahanan Spanyol, kekalahan Jerman yang notabene tim yang belum terkalahkan sebelumnya menjadi sinyal bahaya buat Spanyol bahwa secara kualitas Italia tidak berbeda jauh dengan Spanyol.

Italia mulai menemukan formnya ketika Cesare Prandelli menggunakan formasi 4-1-3-2 (offensive) yang digunakan mulai dari pertandingan menghadapi Republik Irlandia. 4 Pemain bertahan yang tidak berdiri sejajar diisi Abate, Barzagli, Bonucci, Balzaretti mampu menampilkan kesolidan pertahanan. Keempat pemain bertahan tersebut sejauh ini mampu memainkan peranannya sebagai tembok di jantung pertahanan Italia. Bonucci yang berusia 25 tahun tidak kikuk berduet dengan sejawatnya Barzagli yang sama-sama bermain di Juventus. 

Pada 2 pertandingan awal Bonucci dipasangkan dengan De Rossi dan Chiellini dengan formasi 3 pemain belakang dan ini terlihat tidak setangguh ketika menggunakan 4 pemain bertahan. Di tiga laga terakhir Italia menggunakan kombinasi Abate, Barzagli, Bonucci, Balzaretti dan Chiellini, hanya sekali Christian Maggio turun sebagai pemain pengganti itupun di injury time. Dengan ketangguhan yang sudah terbukti di tiga pertandingan terakhir rasanya Cesare Prandelli kembali menurunkan kombinasi pertahanan diatara kelima pemain tersebut.

Maju ke tengah, kunci permainan Italia tidak bisa dipungkiri salah satunya adalah Adrea Pirlo. Pemain yang memiliki caps terbanyak kedua di tim saat ini setelah Buffon merupakan otak serangan Italia, dengan akurasi umpan dan efektifitas pergerakan plus memiliki tendangan bebas yang mumpuni wajar Pirlo menjadi andalan di lini tengah Italia. 

Pirlo merupakan satu-satunya pemain yang mencetak gol diluar penyerang memiliki visi permainan yang bagus dan sangat fasih memainkan peran deep playmaker yang belakangan ini jadi trend di beberapa klub sepakbola maupun tim nasional. Pirlo merupakan pemain yang selalu dimainkan dan tidak pernah digantikan sepanjang 5 laga yang sudah dilewati Italia pada Piala Eropa ini, hal ini menggambarkan kebutuhan Italia pada sosok Pirlo walau sudah memasuki usia 34 yang secara fisik dan kecepatan sudah menurun.

Ditengah Italia juga memiliki De Rossi, nah bukannya tadi dia diomongin juga pas bagian lini belakang?? Yup, inilah yang jadi kelebihan De Rossi, dia mampu ditempatkan baik itu menjadi pemain bertahan maupun di lini tengah. Seperti Pirlo, De Rossi juga pemain yang selalu dimainkan dan tidak pernah digantikan. Setelah pada 2 pertandingan awal dia dimainkan sebagai pemain bertahan kemudian dia dikembalikan ke lini tengah dimana dia sering dimainkan mulai dari pertandingan terakhir grup sampai semifinal. Bermain bersama Motta atau Montolivo dan Marchisio lini tengah Italia terlihat kompak. 

Jika Italia mampu menjaga keseimbangan dan bermain lebih dinamis sangat mungkin mereka dapat mengalahkan Spanyol mengingat mereka memiliki penyerang-penyerang eksplosif yang siap menuntaskan peluang yang dikreasi lini tengah.

So, saya rasa pertandingan ini akan menarik jika Italia mau bermain terbuka dan tampil lebih agresif. Mengharapkan hasil seri dan pertadingan harus dituntaskan melalui adu pinalti tentunya sangat riskan, mengingat Spanyol memiliki penjaga gawang yang sama baiknya dengan Italia. Dari kesiapan penendang-penendang pinalti saya rasa keduanya lebih siap mengingat keduanya sudah melewati drama adu pinalti sebelumnya.

Jika saja Del Bosque mau menurunkan striker murni sejak awal dan Cesare Prandelli mau menginstruksikan anak asuhnya bermain lebih terbuka dan agresif tentunya kita akan disuguhkan pertandingan penutup Piala Eropa yang enak ditonton dan tidak membosankan. Kita tunggu saja…Enjoy THE FINAL..!!

0 comments:

Poskan Komentar

Sharing Moments, Berbagi Untuk Kebaikan...