Angan-angan dan Fair Play Angan-angan dan Fair Play | Sharing Moments Angan-angan dan Fair Play | Sharing Moments Sharing Moments, Berbagi Untuk Kebaikan , memberikan inspirasi bagi sesama agar hidup ini menjadi lebih bahagia

Minggu, 18 Desember 2011

Angan-angan dan Fair Play


Entah kenapa malam-malam gini pengen ngomongin sepakbola....hehehehe. Berbicara tentang sepakbola Indonesia banyak hal menarik yang bisa kita lihat, cermati bahkan komentari walau kita bukan komentator yang biasa menghiasi layar kaca di pelosok negeri. Mulai dari tim pertama dari Asia yang berlaga di pentas tertinggi kejuaraan sepak bola dunia, waktu itu diwakili Hindia Belanda di jaman kolonial dulu sampai pada kisah terkini kisruh di tubuh persepakbolaan Indonesia, adanya 2 liga yang memutar roda kompetisi sampai ribut sana-sini masalah statuta FIFA sebagai induk sepakbola dunia dan statuta PSSI yang merupakan induk olah raga sepakbola negeri ini.

Saya sendiri sebenernya gak kepengen mengomentari terlalu banyak tentang kisruh sepakbola negeri ini tapi akhirnya gatel dan tergelitik juga untuk ngoceh-ngoceh sedikit tentang angan dan harapan saya untuk sepakbola Indonesia. Saya rindu sepakbola negeri ini dikenal diseantero jagat ini dengan prestasi yang gemilang, kayanya sebagian besar atau seluruh masyarakat Indonesia jg punya harapan yang sama seperti harapan saya itu. Bukan hanya dikenal dengan kerusuhan antar pemain dilapangan, adu jotos antar official tim, wasit dipukulin, kerusuhan antar supporter atau kemampuan mendatangkan pemain top atau klub teratas di jagat sepakbola.

Sangat banyak talenta-talenta di negeri ini mulai dari ujung Papua sampai ke ujung Sumatera, mulai dari Kalimantan sampai Ambon, tak terbilang pemain-pemain berbakat, yang kalau saja memiliki kesempatan untuk berkembang dalam kondisi kompetisi yang sehat niscaya bukan hanya ditingkat regional saja kita diperhitungkan prestasinya tapi juga di seluruh kolong langit.

Lihat saja klub-klub ternama dunia sudah membuka sekolah-sekolah sepakbola demi menyaring bakat-bakat alami yang dimiliki negeri ini, dalam tahun-tahun ke depan bisa saja SSB yang ada di negeri ini tenggelam oleh SSB-SSB asing tersebut. Bagus memang, paling tidak bakat-bakat alami tersebut dapat diasah dan memiliki iklim kompetisi yang baik, namun ditengah arus industri sepakbola yang mengalir deras sebenarnya ini merupakan peluang setiap klub di negeri ini untuk mengembangkan usahanya. Ya itu semua bisa terjadi andai saja iklim kompetisi di negeri ini berjalan dengan baik. Animo klub-klub besar eropa itu menandakan Indonesia market yang menggiurkan bagi mereka, selain mendatangkan pemasukan juga bisa saja mereka mendapatkan pemain-pemain hebat dari negeri ini dengan biaya yang minim untuk kemudian digunakan dan dikembangkan di negara asalnya.

Sayangnya hal itu sepertinya masih jauh panggang dari api, sepakbola negeri ini sepertinya hanyalah alat kekuasaan untuk mempertahankan eksistensinya atau bahkan meraih dukungan publik untuk melanggengkan kekuasaannya itu. Jika sepakbola kita berprestasi (diwakili TIMNAS tentunya) itu dianggap hasil kerja keras pengurus-yang berasal dari kekuasaan itu tuh, dan pastinya menarik simpati publik untuk mendukung mereka. Namun apa lacur, sepakbola kita justru tak pernah maju, angan-angan kekuasaan untuk menarik simpati publik dengan prestasi justru menghadirkan cemoohan karena prestasi sepakbola kita seperti jatuh ke titik nadir. Jangankan prestasi, untuk memutar roda kompetisi saja kita tidak becus, kentara sekali aroma “tangan besi” dan arogansi bahkan mungkin kepentingan tersembunyi…au ah gelap…

Apakah kita hanya bisa berucap “Dulu kita pernah menahan seri Rusia (dulu Uni Soviet)”, Dulu kita pernah jadi semifinalis Asian Games”, “Dulu kita pernah menjuarai Sea Games” dan dulu-dulu yang lain. Kita silau dengan prestasi kita DULU, seperti tertidur pulas dengan raihan-raihan tersebut? Bisa jadi iya, tapi kalau ditanya ke pengurus PSSI pastinya mereka bilang tidak, mereka ingin memajukan sepakbola seperti harapan masyarakat Indonesia....bla...bla....bla...., walau pada kenyataannya kita tidak pernah merasakan prestasi yang fenomenal yang diraih satu dekade ini. Bahkan ketika tampuk kepemimpinan di tubuh organisasi yang mengayomi persepakbolaan mengalami perubahan namun tidak serta merta merubah kebiasaan dan pola kekuasaan itu. Semua sepertinya (bener apa gaknya hanya mereka dan Tuhan yang tahu) demi kepentingan sekelompok orang, entah itu urusan bisnis atau kekuasaan. Sepakbola tidak lagi murni milik masyarakat di negeri ini, tak seperti di negeri antah-berantah sana....hehehehe.....kalopun iya, ya paling segelintir masyarakat doang.

Gak ngilang-ngilangin sih, ada prestasi yang cukup baik, yaitu dengan menghadirkan lebih banyak penonton dan itu tidak didominasi remaja putra tapi juga putri dan dari segala golongan umur, tanpa mengenal strata sosial dan tingkat ekonomi. Itu sebuah prestasi yang cukup baik, artinya sepakbola mulai jadi industri di negeri ini, namun masyarakat (termasuk saya) berharap prestasi yang diraih bukan hanya sekedar itu, masyarakat pastinya sangat merindukan raihan medali dan piala sebagai simbol prestasi dan pengakuan publik regional maupun dunia bahwa memang kitalah yang terbaik dalam hal prestasi di lapangan, bukan hanya jadi runer-up atau semifinalis. Dalam beberapa kesempatan memang kita sudah bermain baik, namun gagal jadi juara karena ternyata ada yang jauh lebih baik (so kita belum yang terbaik kan...hehehe...).

Well, kalo boleh menghimbau para pengurus PSSI, cobalah lihat potensi-potensi alami yang ada di seantero negeri ini? Pikirkanlah bagaimana mengembangkan bakat-bakat alam tersebut, berikanlah mereka kesempatan untuk berkompetisi dengan baik, berilah mereka contoh bagaimana “bertarung” dengan fair seperti yang didengung-dengungkan jangan hanya mementingkan kepentingan-kepentingan dari kerabat atau golongan yang telah memberikan dukungan kepada anda-anda yang budiman.

Jadikanlah sepakbola sebagai media pemersatu bangsa, pembangkit rasa nasionalisme, wadah untuk mempererat tali persaudaraan antar warga masyarakat negeri ini dalam aroma kompetisi yang sehat dan bersih serta bebas dari kepentingan seperti yang dicita-citakan bukan saja para founding father negeri ini tapi juga masyarakat dan publik dari dulu hingga sekarang, bukan alat untuk melanggengkan kekuasaan atau menyuburkan sikap otoritarian dan arogansi kekuasaan ataupun keuntungan sekelompok orang.

Saya yakin anda semua bisa seandainya memang yang diinginkan adalah maju dan jayanya sepakbola negeri ini seperti juga yang diimpikan seluruh masyarakat Indonesia.

Pemimpin sejati tumbuh bersama masyarakat dan berbuat dengan kecintaan pada mereka. (NN)

Pemimpin seyogyanya terbang seperti burung elang. Tinggi, sendirian, kesepian, namun memiliki 
sayap yang mengagumkan. Ia memang tidak pernah terbang bersama-sama namun penuh kebebasan. (NN)

Kepribadian pemimpin adalah ucapan yang santun, pikiran yang cerdas, dan perbuatannya yang lurus (NN)

0 comments:

Poskan Komentar

Sharing Moments, Berbagi Untuk Kebaikan...